Lihatlah foto yang saya unggah dari laman berita tersebut.
Bayangkan jika kedua orangutan yang terpojok itu adalah kita. Di wilayah yang sudah mereka diami bertahun-tahun atau bahkan sebelum kita lahir ini, mereka seakan-akan 'hama' (begitu yang sering mereka dalihkan-red) yang harus dibasmi sampai ke anak-cucunya yang bahkan masih di dalam kandungan induknya.
Betapa tragis nasibnya, terpampang di halaman-halaman surat kabar bersama dengan berita-berita 'ketegaan' manusia lainnya.
Sempat terbesit dalam pikiran saya, apakah si 'pemburu' tidak merasakan baunya darah dan sesaknya jeritan-jeritan mereka ketika memburunya, menyiksanya. Padahal, bentuk tubuh mereka,suara jeritan mereka, bahkan hentakan tangan-tangan kesakitan mereka, tak beda jauh dengan kita (manusia).
Saya sampai tidak mengerti. Apakah alasannya?
Apa seperti yang dibilang media-media itu, mereka di'musnah'kan karena mereka 'hama' dan setiap 'kepala hama' dihargai rupiah.
Atau, alasan lainnya: karena kita selalu marah jika diejek-ejek dengan kata 'monyet' atau 'kera'?
Katanya manusia adalah makhluk yang paling puitis, bahkan lelaki preman pun bisa luluh karena wanita yang mereka sebut-sebut sebagai ibunya.
Tapi, melihat orangutan betina itu memeluk anaknya, apakah semua itu seakan-akan non-sense??